Sabtu, 16 Oktober 2010

Pentingnya Memahami Siroh Nabawiyah

I. Muqaddimah
Tidak ada satu pun biografi kehidupan seseorang di dunia ini selengkap biografi Rasulullah SAW. Kita boleh menyemaknya mulai dari masa pernikahan Abdullah dan Aminah -ayah bunda beliau- sampai dengan wafatnya.Kita boleh mengenal jelas waktu kelahirannya, masa kecil dan masa mudanya. Apalagi setelah beliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, dengan terperinci.

Biografi beliau merupakan sejarah lengkap kehidupan seorang manusia yang dimuliakan dengan risalah Allah, yang tidak terlepas dari sisi-sisi kemanusiaannya. Maka sangatlah relevan bila Allah SWT memerintahkan agar individu Muhammad SAW diteladani dan dijadikan rujukan hidup umat manusia.

Firman Allah : "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS.Al Ahzab : 21)

Kehidupan beliau sangat kompleks, menyangkut segala aspek kehidupan, sehingga tidak ada satu sisi pun dari kehidupan manusia yang terlepas dari sisi kehidupan beliau. Beliau adalah seorang suami terbaik dari beberapa orang isteri, seorang ayah terbaik dari beberapa orang anak, seorang datuk terbaik dari beberapa orang cucu, seorang mertua terbaik dari beberapa orang menantu, seorang menantu terbaik dari beberapa orang mertua, seorang pemimpin yang adil, seorang panglima yang cerdas, seorang politikus yang ulung, seorang yang paling sukses dalam dakwahnya, dan kesemuanya itu dilandasi dengan keagungan akhlak beliau.

Firman Allah : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al Qalam : 4)

Biografi  beliau juga merupakan petunjuk praktis dan aplikatif bagi umat manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah dan pelaksana hukum Allah (Al Qur’an) di muka bumi ini.

Aisyah ra. menyimpulkan : "Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an"

Al Imam Asy-Syafi’i mengatakan, "Apa yang beliau perbuat adalah apa yang beliau fahami dari al Qur’an."

Oleh karena itu, memahami biografi beliau merupakan bahagian yang tidak terpisah dari memahami Islam itu sendiri, karena ia adalah saksi nyata, saksi hidup dari buah Iman dan keyakinan yang mantap terhadap Dienul Islam, yang terjelma pada sosok pemimpin teladan yang agung, juga tercermin dalam kehidupan generasi pertama yang tumbuh hidup ditangan didikan beliau sendiri. Biografi Rasulullah SAW ini kita kenal sekarang dengan istilah Sirah Nabawiyah.



II.Makna Sirah

Ibnu Mandzur dalam ‘Lisanul Arab’ mengatakan bahwa As Sirah menurut bahasa berarti kebiasaan, jalan / cara, tingkah laku. Sedangkan menurut istilah umum, berarti rincian hidup seseorang atau sejarah hidup seseorang. Namun sudah menjadi kesepakatan umat manakala menyebut as-Sirah, yang dimaksud adalah as-Sirah an-Nabawiyah artinya sejarah hidup Rasulullah SAW dan kini sudah menjadi satu nama / istilah dari disiplin ilmu tersendiri.

Para ulama ahli sejarah dahulu memakai istilah ‘Ilmu peperangan dan Sejarah’. Pada dasarnya pembahasan Sirah Nabawiyah mencakup 3 bahasan pokok :

1. Sejarah kehidupan Rasulullah SAW sejak tanda-tanda kenabian (sejak lahir) sampai wafatnya.

2. Sejarah kehidupan para sahabat yang beriman dan berjihad bersama beliau.

3. Sejarah penyebaran Dienul Islam yang dimulai turunnya Al ‘Alaq di gua Hira sampai berduyun-duyun umat manusia di jazirah Arab memasuki Islam.



III.Sumber-sumber Kajian Sirah Nabawiyah

Al-Qur’an:

Al Qur’an merupakan sumber pokok kajian Sirah nabawiyah, karena Al Qur’an merupakan data paling tepat untuk catatan semua peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di alam ini.

Yang menuturkannya adalah satu-satunya saksi sejarah yang masih hidup dan tidak akan pernah mati, bahkan Allah sendirilah pemprogram semua peristiwa sejarah itu. Tetapi Al Qur’an sendiri tidak secara rinci memuat peristiwa-peristiwa sejarah, hanya secara global saja. Oleh karena itu kita tidak hanya cukup bersandar pada Al Qu r’an saja dalam kajian Sirah Nabawiyah ini, tetapi perlu didukung oleh sumber-sumber lainnya.

As SunnahAn Nabawiyah Ash Shahihah:

Yakni Sunnah yang telah dihimpun oleh para ulama hadits dengan cara periwayatan yang sangat cermat, seperti 6 kitab standard dalam ilmu hadits : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’i, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan At-Tirmidzy. Juga Muwaththa’ Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad boleh dijadikan sumber kajian Sirah.

Kitab-kitab Sirah, Dalail dan Syama’il.

Seperti Sirah Ibnu Hisyam karya Abu Muhammad Abdul Malik Ibn Ayyub Al Humairy (213 atau 218 H), Thabaqat Al Kubra (Thabaqat Ibnu Sa’ad) karya Muhammad Ibnu Sa’ad Ibnu Munei’ Az-Zuhry (168 - 230H), Tarikh Ath-Thabary karya Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir Ath-Thabary (223 – 310 H), Dala’ilunnubuwwah karya Al Imam Al Baihaqy, Asy-Syamail karya Al Imam At-Turmudzy, Al-Khashaish Al Kubra karya Imam As-Suyuthy, dll.



IV.Ciri-ciri Sirah Nabawiyah



Ciri-ciri Sirah Nabawiyah sangat terkait dengan karakteristik Al Qur’an dan As-Sunnah, karena ketiganya merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan. Namun di sisi lain ada perbedaan-perbedaan yang disebabkan karena unsur kemanusiaan pribadi Rasulullah SAW. Asy-Syumul (Universal), yakni mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Karena beliau diutus untuk dicontoh dan dijadikan tauladan oleh umat manusia.

Al-Mahfudh (Terpelihara), yakni Allah SWT memelihara Sirah Nabawiyah seperti Sunnah Nabawiyyah, karena pemeliharaan keduanya merupakan indikasi pemeliharaan terhadap Al Qur’an sendiri. Al-’Amaliyyah (Aplikatif), yakni Sirah Nabawiyah sangat mungkin untuk diaplikasikan dalam setiap masa, setiap tempat dan keadaan serta setiap permasalahan.



V.Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah



Fungsi Sirah Nabawiyah Mengkaji Sirah Nabawiyah dan memahaminya bukanlah seperti merenungkan peristiwa-peristiwa sejarah, bukan pula menguraikan keindahan tutur kata dari pencatatan suatu peristiwa, sebagaimana pencatatan sejarah hidup seorang raja atau pemimpin biasa. Akan tetapi bertujuan supaya seorang muslim mempunyai gambaran nyata tentang hakikat Islam yang sebenarnya, yang tercermin dalam sosok kehidupan Rasulullah SAW. Jadi tiada lain kecuali suatu usaha aplikatif untuk merealisasikan hakikat Islam yang sempurna.

Fungsi memahami Sirah Nabawiyah tercermin dalam point-point berikut:

Meletakkan dasar yang kuat tentang Kerasulan Muhammad SAW.

· membenarkan setiap apa yang beliau khabarkan (QS 53:3-4),

· mentaati apa yang diperintahkan (QS. 4:59),

· menjauhi apa yang beliau larang (QS 59:7),

· beribadat menurut syari’atnya dan

· mencintainya (QS 9:23-24).



Bersabda Rasulullah SAW: "Tidak beriman seseorang (dengan sempurna) di antara kalian kecuali aku lebih dicintai dari pada dirinya sendiri, orang tua dan seluruh manusia."

Dengan dasar ini maka secara langsung merupakan senjata yang ampuh dan kuat untuk menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam yang selalu berupaya melontarkan syubuhat (kerancuan-kerancuan) tentang kebenaran risalah dan kenabian Muhammad SAW. Mereka bertujuan supaya kalimat kedua dari dua kalimat syahadat hanya menjadi pemanis bibir dan hiasan basa-basi pada percakapan resmi. Penjelmaan di hadapan seorang muslim sebuah sosok yang jelas dengan sisi-sisi kehidupan yang patut dicontoh sebagai aplikasi dari ayat 21 surat Al-Ahzab, sehingga mendapatkan contoh yang nyata dalam pelaksanaan Dienul Islam.

Akan tetapi sayangya, sejarah hidup Rasulullah SAW untuk sementara ini hanya sekedar buku bacaan yang terkadang tidak difahami karena berbahasa arab, interaksi dengannya hanya sebatas seremonial / ritual yang belum tentu didizinkan oleh Allah dan RasulNya. Hasilnya umat Islam sudah kehilangan figur contoh dan idolanya.

Kajian Sirah Nabawiyah membantu dalam menelaah Kitabullah (Al Qur’an), merasakan ruhnya dan menangkap pesan-pesannya. Dengan demikian Al Qur’an difahami dengan benar, baik secara tektual ataupun kontektual. Banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang tidak bisa difahami / ditafsirkan secara benar kecuali dengan merujuk kepada Sirah Nabawiyah yang berkaitan dengan ayat-ayat itu. Sebagai contoh surat Al-Anfal. Surat ini hanya bisa difahami dan bisa diambil ibrahnya manakala kita baca Sirah Nabawiyah tentang perang Badar. Kajian Sirah Nabawiyah memberikan manhaj (methode) yang jelas bagi para da’i untuk meneruskan perjuangan mulia para Nabi dan Rasul. Juga memberikan gambaran susunan agenda dan alpabeta kerja da’wah secara rinci dan jelas.

Dalam perjalanan da’wah Rasulullah SAW, di kenal dua buah fase/tahapan da’wah :

Fase Makkiyah (selama beliau berda’wah di Makkah ).

1. Penekanan dengan penyampaian dan penyebaran da’wah, baik secara rahasia ataupun secara terang-terangan, dimulai dari keluarga terdekat, sebagai penyelamatan manusia dari kesesatan kepada petunjuk yang terang, mengeluarkan umat manusia dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya Islam yang terang benderang.



2. Penekanan dengan mendidik / mentarbiyah orang-orang menerima da’wah dan beriman kepada da’wah beliau, mentazkiyah / menyucikan jiwa mereka, untuk membentuk basis masyarakat Islami dengan jalan: -mengajarkan Dienul Islam -mengaplikasikan Islam dalam kehidupan mereka. -memperdalam makna ukhuwah islamiyah di antara mereka -saling berwasiat dengan haq dan kesabaran



3. Berusaha untuk tidak memberikan perlawanan secara fisikal terhadap gangguan dan rintangan da’wah, cukup dengan jihad da’wah. Padahal musuh-musuh Islam menyerangnya dengan berbagai kekuatan fisikal. Bahkan Khobbab ibn Al-Arot ra pernah mengadu kepada Rasulullah SAW tentang siksaan yang diderita oleh shahabat yang lain. Shahabat Khobbab lalu mengusulkan agar kaum Muslimin diizinkan memberikan perlawanan fisikal atau Rasulullah berdo’a kepada Allah untuk kehancuran orang-orang kafir. Tapi beliau menganggap tindakan itu sebagai langkah isti’jal (ketergesa-gesaan).



4. Terus bergerak dengan da’wah, tidak terfokus pada Makkah saja, hijrahnya beberapa orang ke Habasyah, perginya beliau ke Tha’if, usaha beliau untuk menjalin hubungan dengan jemaah haji yang datang ke Makkah di musim haji merupakan bukti amanah beliau dalam menyampaikan Risalah Islam.



5. Kesinambungan kerja dalam meletakkan strategi dan langkah-langkah untuk masa depan da’wah islamiyah. Seperti mengadakan perjanjian dan sumpah setia (bai’at) dengan orang-orang Yatsrib; kemudian mengutus Mus’ab bin Umair kepada mereka untuk mengajarkan Al Qur’an dan Islam; berusaha memiliki kontak dengan kabilah-kabilah di luar kota Makkah untuk mencari suaka dan tempat berlindung; Dan akhirnya beliau hijrah ke Yathrib/Madinah dengan strategi yang sangat rapi dan matang.



Fase Madaniyah (selama beliau berda’wah di Madinah)



1. Penekanan dalam pemantauan proses penyampaian da’wah, tarbiyah dan tazkiyah kepada orang-orang yang menerima da’wah dengan cara penyampaian Al Qur’an, mengajarkannya dan menerapkannya dalam kenyataan hidup mereka. Juga kepentingan pembangunan masjid sebagai tempat pembinaan umat, mempersaudarakan antara orang-orang Ansar dan Muhajirin serta terus mempererat hubungan persaudaraan di antara mereka.



2. Penuh perhatian dengan berdirinya suatu tatanan masyarakat atau tata perlembagaan masyarakat Islami (daulah) setelah ketiga unsurnya sempurna, yaitu: - adanya basis masyarakat yang beriman, hal ini sudah beliau persiapkan sejak diutusnya Mus’ab bin Umair ke Yatsrib sebelum Hijrah. - adanya basis geografis yang aman, di mana kota Yathrib sangat strategis kalau dilihat dari berbagai aspeknya, di samping sebagai realisasi petunjuk Allah dalam mimpi beliau (mimpi seorang Nabi merupakan wahyu yang benar). - adanya aturan hidup yang jelas, yakni syari’at Islam yang terus mengatur interaksi masyarakat.



3. Penekanan pada melaksanakan aplikasi syari’at Islam bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, baik untuk perorangan atau masyarakat luas. Malah beliau menegaskan, putri beliau tercinta pun tidak akan lepas dari hukum tersebut, apabila ia melanggar.



4. Berusaha mengadakan perdamaian dengan musuh-musuh Islam yang mahu berdamai dan berusaha untuk hidup berdampingan dalam suatu tatanan masyarakat Islami.



5. Menghadapi musuh-musuh Islam yang berusaha menyerang dengan jalan melakukan peperangan, mengadakan latihan dan patroli ketenteraan serta terus mengadakan mobilisasi pasukan mujahidin yang siap tempur bila saja beliau minta. Sebagai contoh adalah kisah Hanzalah. Beliau tidak sempat mandi junub setelah malam pengantinnya karena mendadak ada penggilan jihad menuju Uhud. Di dalam perang Uhud sahabat Hanzalah syahid. Malaikatlah yang memandikan beliau sebelum akhirnya dikuburkan oleh kaum muslimin.



6. Merealisasikan Alamiyatudda’wah Al-Islamiyah, sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dengan cara mengirim utusan-utusan dan surat-surat da’wah ke berbagai daerah atau negara tetangga serta menerima tamu-tamu dari utusan negara lain sebagai bukti bahwa da’wah beliau untuk seluruh umat manusia.



Kajian Sirah Nabawiyah termasuk aktivitas ilmiah kita yang bernilai ibadah. Ayat 21 surat al-Ahzab secara jelas memerintahkan kita berqudwah kepada Rasulullah SAW. Tidak mungkin kita boleh berqudwah kepada beliau kecuali dengan mengenal, mengkaji dan memahami Sirahnya. Dalam kaidah syar’iyyah sering kita jumpai: "Segala sesuatu yang mendukung sempurnanya suatu kewajiban, maka hukumnya wajib".

Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah, Umat Islam secara tidak langsung mempunyai standard baku dan benar dalam menilai keadaan kehidupan masyarakat semasa, di mana masa kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan puncak kesempurnaan dari kehidupan umat manusia sepanjang sejarah.



VI.Penutup

Para ulama Salaf (terdahulu) dan Khalaf (kontemporari) sangat serius dengan kajian Sirah Nabawiyah. Ali Ibn Al-Hasan menuturkan:"Kami mengajarkan Maghazi (peperangan) Nabi SAW seperti kami mengajarkan salah satu surat dari Al Qur’an". Lihat Al-Bidayah Wan-Nihayah - Ibn Katsir juz 3 hal. 241.

Urwah ibn Az-Zubair ibn Awwam (23 H - 93 H) adalah orang yang pertama mentadwin peristiwa-peristiwa Sirah yang ia dengar dari para shahabat, kemudian Aban ibn Utsman ibn Affan (32 H - 105 H), Abdulloh ibn Abu Bakar Al-Anshary ( wafat 124 H ), Muhammad ibn Muslim ibn Syihab Az-Zuhry ( 50 H - 124 H ) dll.

Di kalangan ulama masa kini, kajian Sirah Nabawiyah tetap bersandar kepada apa yang ditulis oleh para ulama salaf, tapi lebih dititikberatkan kepada ibrah dan komentar-komentar untuk dijadikan bahan pemahaman mendalam. Seperti „Fiqhus Sirah" karya Syekh Muhammad Al-Ghazali) (sudah diterjemahkan).

3 komentar:

 

Boleh Pukul Istri, Asal Tanpa Bekas

Tuesday, 19 October 2010 09:23 Hukum Para ulama Islam di Uni Emrirat sepakat, pukulan tersebut tidak boleh terlalu keras Hidayatullah.com-- Vonis Mahkamah Agung Federal Uni Emirat Arab, sebagaimana diberitakan oleh harian setempat, The National, hari Senin kemarin mengumumkan, seorang pria boleh memukul istri dan anak-anak, dengan syarat, pukulan tersebut tidak meninggalkan bekas. Seorang pria, menurut hukum Islam, berhak untuk mendidik istri dan akan-anaknya. Dalam hal ini, termasuk memberi pukulan. Namun, para ulama Islam sepakat, pukulan tersebut tidak boleh terlalu keras. Menurut harian The National, kasus ini menyangkut seorang pria yang memukul istri dan memukul serta menendang anak perempuannya, yang berusia 23 tahun. Sang istri mendapat luka-luka di bibir dan gigi, sementara sang putri mengalami memar biru di tangan dan lutut. Sebelumnya, pengadilan telah menjatuhkan hukuman denda pada pria tersebut, karena telah menyalah-gunakan hak untuk mendidik istri dan anak. Pria ini tidak menerima keputusan pengadilan, dan mengajukan banding. Mahkamah Agung Uni Emirat Arab kembali memvonis pria ini, dengan hukuman yang sama

Keluarga Sakinah

Jijik Berhubungan Intim, Apa Hukumnya? Wednesday, 12 May 2010 16:13 Hubungan intim bukan saja semata-mata untuk mendapatkan kesenangan, melainkan juga mendapat pahala dari Allah Assalamualaikum Ustaz Saya (25 tahun) sudah 3 tahunn menikah. Suami saya adalah teman sekelas ketika SMU. Suami saya bisa dibilang memiliki hasrat kebutuhan biologis yang tinggi. Sedangkan saya setelah melahirkan anak pertama, boleh dibilang enggan dan tidak tertarik lagi untuk berhubungan. Malahan saya merasa jijik ketika suami mulai membicarakan sesuatu yang berbau seks. Sudah hampir 6 bulan lebih saya tidak berhubungan. Saya pribadi merasa tidak ada masalah, malahan merasa senang. Tapi suami saya sangat terbebani dengan masalah ini. Yang ingin saya tanyakan, kenapa saya jadi begitu enggan berhubungan intim, dan apa sebaiknya yang saya lakukan karena saya kasihan pada suami saya. Jazakallah khoir. wassalamualaykum. Jawaban Wa'alaikum salam Menurut teori kesehatan (pendapat Dr dr Hudi Winarso SpAnd Mkes), potensi seks seseorang terkait dua faktor, yaitu umur dan usia pernikahan. Pria usia 15–30 tahun umumnya berada pada potensi kebutuhan biologis (seks) yang prima. Potensi pria pada usia 30–40 tahun berada pada kondisi konstan. Setelah usia 40 tahun, pria akan mengalami penurunan potensi karena andropause. Maka saya sarankan seharusnya Anda bersyukur, karena suami berada pada potensi yang prima. Banyak keluhan para isteri disebabkan hilangnya potensi suami yang secara biologis sedang dalam puncak kebutuhan. Islam memandang seks dengan pandangan berbeda dibandingkan dengan pandangan umum. Majida Tufail dalam buku Panduan Seks Islami menuliskan bahwa Islam tidak memandang seks sebagai syahwat daging yang penuh dosa dan karena itu jiwa harus menundukkannya. Islam menganggap seks sebagai suatu hal yang suci, fitrah dari setiap manusia, dan bahkan sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena, jika “seks” dipraktikkan dalam kerangka yang sesuai dengan syariat Islam, tentu sepasang suami-istri bukan semata-mata untuk mendapatkan kesenangan dan kepuasan seksual, melainkan juga mendapat pahala dari Allah. Artinya seks yang dilakukan dalam ikatan pernikahan dipandang Islam sebagai wujud sedekah dan juga ibadah. Seperti diungkapkan oleh Rasulullah, bahwa “dalam hubungan yang dilakukan oleh pasangan yang sah, ada sedekah.” Bahkan dalam satu hadis lain, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa ingin melihat Allah dalam kesucian, hendaklah dia menemui-Nya dengan istrinya.” Tetapi jika seks itu dipraktikkan di luar ikatan pernikahan, Islam jelas-jelas akan mengutuk karena hal itu termasuk perbuatan zina yang dilarang ajaran Islam (QS. al-Isra` [17]: 32). Saran kami, Anda belum terlambat untuk 'berlatih' kembali untuk menikmati anugrah Allah ini. Persiapkan pikiran positif dalam melakukannya. - Komunikasikan dengan suami tentang apa yang Anda harapkan, dan mintalah bersabar bila Anda perlu tahapan. - Mintalah suami untuk memberikan pijatan-pijatan lembut pada tubuh Anda, untuk mengurangi ketegangan. - Mintalah agar suami memberi perhatian ekstra pada Anda agar Anda dapat mendatangkan hasrat/mood, sehingga meningkatkan rasa nyaman dan percaya diri Anda. - Perbanyak kegiatan bersama suami, yang dapat menimbulkan rasa sayang dan kebersamaan. - Konsumsi multi vitamin yang mengandung vitamin E, C, B kompleks, mangan, kalsium, dan seng, yang seluruhnya berguna menjaga keseimbangan fungsi sistem syaraf dan membantu memperbaiki sel-sel yang rusak dalam organ reproduksi. - Perlakukanlah seks sebagai hal yang suci, jangan kotori dengan sesuatu yang menghilangkan kesuciannya. Karena ada adab dan aturan yang tak bisa dilanggar. Islam menganjurkan pasangan tidak sampai mempraktikkan seks a la binatang, melainkan seks yang me”manusia”kan Anda sebagai seorang isteri. Karena itu, Nabi bersabda “Janganlah di antara kalian mendatangi istrinya seperti binatang. Adalah lebih patut baginya untuk mengirimkan pesan sebelum melakukannya.” (HR Dailami
I LOVE ISLAM is proudly powered by Blogger.com | Template by InFoGauL